Mulai bulan Oktober, lanjut Hasto, para bidan dan nakes baru akan mendampingi 45 kelurahan bersama puskesmas. Ada lima fokus intervensi utama, yakni penyakit menular TBC dan HIV, penyakit tidak menular, pencegahan stunting, kesehatan lansia, dan kesehatan jiwa.
“Membangun sumber daya manusia itu tidak hanya fokus pada warganya, tapi juga petugas kita. Sebulan lagi bidan dan nakes dikumpulkan, kita evaluasi dengan indikator konkret. Data TBC, HIV, risiko stunting, lansia yang diabetes dan hipertensi, juga kesehatan jiwa termasuk ODGJ. Semua by name by address harus sudah ada dalam genggaman, melalui aplikasi Jogja Sehat di Jogja Smart Service (JSS),” tegas Hasto.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menambahkan bahwa program ini merupakan upaya nyata mendekatkan tenaga kesehatan dengan masyarakat.
“Program ini juga didukung pengembangan aplikasi Jogja Sehat oleh Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian. Sistem ini memperkuat pencatatan, pelaporan, dan koordinasi lintas sektoral agar layanan lebih efektif. Pendataan, pendampingan, dan pelaporan para nakes jadi lebih mudah. Ini juga menandai komitmen Pemkot pada layanan kesehatan yang merata, responsif, dan berbasis teknologi untuk visi pembangunan manusia yang sehat, produktif, dan sejahtera,” terangnya.
Sementara itu, salah satu tenaga kesehatan, Arnika Julia Fergin, yang akan bertugas di Kelurahan Klitren, mengaku siap untuk mengabdikan diri.
“Sebagai lulusan D3 Kebidanan, saya ingin mengimplementasikan ilmu yang saya pelajari, memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat. Program ini menjadi kesempatan untuk benar-benar dekat dengan warga, membantu ibu hamil, balita, hingga lansia agar mereka semua lebih sehat,” ungkapnya. (*)
