Menurut catatannya, total gapoktan di Jateng mencapai 8.200 unit. Dari jumlah itu, 2.568 kelompok tani telah mendapatkan pendampingan Distanbun untuk mengembangkan produk pertanian.
“Jumlah tersebut masih sangat sedikit dibanding total petani kita yang mencapai 4 juta. Nah, bayangkan bila petani milenial juga ikut terjun dalam pertanian berorientasi ekspor,” imbuh Frans.
Berdasarkan catatan Balai Karantina Indonesia (Barantin) hingga November 2025, nilai ekspor produk pertanian dan UMKM dari Jawa Tengah telah mencapai Rp18,2 triliun.
Pada momen yang sama, dilakukan pelepasan ekspor produk pertanian, kelautan, dan kehutanan asal Jateng. Di antaranya, 320 kilogram sarang burung walet ke Tiongkok dengan nilai Rp4,7 miliar, ekspor ikan pari beku total 27 ton ke Belanda dengan nilai Rp902 juta, serta ekspor kerupuk udang seberat 17,8 ton ke Belanda.
Ada pula ekspor kapulaga dengan total 15 ton ke Tiongkok bernilai Rp1,4 miliar, ekspor biji kopi total 17 ton ke Uni Emirat Arab bernilai Rp1,4 miliar, serta ekspor plywood dengan total 58,5 meter kubik bernilai Rp466 juta. (*)
