Wahyu menjelaskan, data tersebut diperoleh melalui survei yang dilakukan di sejumlah titik prioritas di Kota Yogyakarta, antara lain hotel, objek wisata, serta kawasan destinasi utama seperti Malioboro, Gembira loka zoo, Taman pintar, Keraton, Museum Sonobudoyo, Benteng vredeburg dan beberapa tempat lainnya yg selama ini menjadi aktivitas wisatawan.
Terkait himbauan melalui Surat Edaran (SE) untuk tidak menyalakan kembang api pada malam pergantian tahun, Wahyu menegaskan kebijakan tersebut tidak berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan. Imbauan itu ditujukan kepada hotel, restoran, perangkat daerah, dan penyelenggara acara agar mengisi malam tahun baru dengan kegiatan yang lebih positif, termasuk aksi empati dan donasi bagi korban bencana di sejumlah daerah di Sumatera.
Selama masa Nataru, objek wisata favorit masih didominasi kawasan Malioboro, Keraton Yogyakarta, dan Kebun Binatang Gembira Loka. Namun demikian, sejumlah titik baru mulai menunjukkan potensi besar, khususnya pusat-pusat kuliner yang semakin diminati wisatawan.
“Pusat kuliner seperti Pasar Ngasem, kuliner di Pasar Beringharjo, kawasan Wijilan, termasuk sentra bakpia pathuk di Kemantren Ngampilan semakin diminati wisatawan. Hal ini dibantu peran Media sosial dalam mempromosikan destinasi-destinasi ini” jelasnya.
Berdasarkan karakteristik kunjungan, mayoritas wisatawan datang bersama keluarga. Momentum libur panjang yang diperkuat dengan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pemerintah pusat menjelang tahun baru turut mendorong peningkatan kunjungan ke Kota Yogyakarta.
