YOGYAKARTA, Cakram.net – Kawasan Jalan Malioboro terus diperkaya sebagai ruang budaya melalui program “Setu Sinau” yang diinisiasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Kegiatan ini rutin digelar setiap Sabtu pagi di sisi timur Malioboro, tepatnya di sekitar kawasan DPRD DIY, dengan konsep pembelajaran budaya terbuka yang dapat diikuti masyarakat maupun wisatawan.
Setu Sinau dirancang sebagai street workshop, yakni kelas budaya singkat yang berlangsung di ruang publik. Dalam pelaksanaannya, enam kelas digelar secara paralel, meliputi Sinau Aksara Jawa, Sinau Nggamel (gamelan), Sinau Ngadi Busana, Sinau Njoged (tari), Sinau Nggambar (melukis), serta Sinau Dolanan Anak. Seluruh kelas dipandu oleh pelaku seni dan komunitas budaya Yogyakarta, sehingga menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, belum lama ini menyampaikan Setu Sinau menjadi strategi untuk memperkuat nilai tambah Malioboro sebagai destinasi budaya. “Inilah value added Malioboro, kunjungan yang bukan hanya meninggalkan jejak konsumsi, tetapi juga pengalaman dan kedekatan emosional dengan kebudayaan Yogyakarta,” ujarnya, dilansir dari warta.jogjakota.go.id, Senin 13 April 2026.
Menurutnya, ruang publik tidak hanya dimaknai sebagai kawasan ekonomi, tapi juga ruang belajar bersama yang inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan ini memungkinkan pengunjung tidak sekadar menjadi penonton, melainkan turut terlibat langsung dalam proses pembelajaran budaya.
Program yang berlangsung pukul 07.00 hingga 09.00 WIB ini diluncurkan pada 14 Februari 2026 lalu. Hingga saat ini, kegiatan telah digelar sebanyak empat kali dan dijadwalkan kembali hadir pada 18 April mendatang.
