Hasto juga mendorong agar ke depan kalender event JCACC terus ditingkatkan. Tidak hanya untuk menarik wisatawan asing, tetapi juga warga asli yang tinggal di luar negeri namun keturunan Tionghoa yang memiliki keterikatan sejarah dengan Yogyakarta. “Bahkan dapat dikembangkan agenda kedepannya terhadap budaya ziarah leluhur seperti perayaan Ceng Beng sebagai potensi wisata budaya baru,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua JCACC, Tandean Harry Setio menjelaskan, PBTY 2026 akan berlangsung selama tujuh hari penuh di Kampung Ketandan. Tahun sebelumnya, PBTY tercatat mampu menarik sekitar 10.000 hingga 20.000 pengunjung.
“Tahun Baru Imlek 2026 jatuh pada 17 Februari dan berdekatan dengan awal Ramadan. Karena itu kami mengusung tema Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa, sejalan dengan Yogyakarta sebagai City of Tolerance,” jelasnya.
Selain kegiatan utama di Kampung Ketandan, PBTY juga akan diramaikan dengan Malioboro Imlek Karnaval yang digelar di sepanjang Jalan Malioboro pada Sabtu, 28 Februari 2026. Beragam rangkaian acara telah disiapkan, mulai dari pasar rakyat dan bazar kuliner, pameran budaya, hingga panggung hiburan dan lomba-lomba untuk anak-anak.
Selama bulan Ramadan, waktu kegiatan hiburan dan ngabuburit akan disesuaikan. Sementara kegiatan malam hari akan dimulai setelah salat tarawih. Panitia juga menyiapkan pembagian takjil gratis di zona-zona tertentu sebagai bentuk kepedulian sosial,” imbuhnya.
