“Keterbatasan anggaran membuat sekolah kesulitan memperbaiki fasilitas yang sudah rusak, seperti toilet dan ruang jelas. Kami terpaksa menunda perbaikan toilet yang sudah tidak layak digunakan,” ungkapnya.
Dwi Wahyuni berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan solusi yang lebih baik terkait masalah ini. Karena untuk mendukung kegiatan besar di sekolah seringkali dibantu oleh sumbangan dari orang tua siswa. “Kami membutuhkan perhatian lebih, agar sekolah bisa berjalan dengan baik tanpa harus mengorbankan kualitas pendidikan dan fasilitas sekolah,” ujarnya.
Terpisah, Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyampaikan tidak ada pemberhentian terhadap tenaga non-ASN di Kabupaten Semarag. Para tenaga non-ASN tersebut ditempatkan di sekolah-sekolah, karena tidak boleh dibiayai dengan dana APBD.
“Mereka kita geser ke dinas pendidikan untuk menjadi guru tidak tetap di SD dan SMP, tenaga administrasi. Honornya diambilkan dari BOS. Total ada 678 tenaga non-ASN,” katanya di sela peresmian proyek-proyek tahun 2025 di Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, Rabu 28 Januari 2026. (rbd)
