Hadapi Cuaca Ekstrem, Pemkot Yogyakarta Alokasikan Anggaran Rp 7.5 Miliar untuk Perbaikan Talud

Selain pembangunan baru, Pemkot juga melakukan penanganan insidentil di sejumlah titik rawan seperti Ngampilan, Baciro, dan Gambiran. Penanganan ini umumnya dipicu laporan kerusakan akibat hujan deras yang menyebabkan ambrol atau longsor pada struktur lama.

“Kebanyakan yang rusak itu struktur lama, rata-rata masih batu kali. Kalau sudah lama dan terus tergerus arus, memang rawan,” ujarnya.

Tak hanya pembangunan, pemeliharaan rutin juga dilakukan di tiga sungai besar yang melintasi Kota Yogyakarta, yakni Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajah Wong. Seperti saat ini, Kurniadi mengungkapkan pihaknya tengah menindaklanjuti beberapa titik longsor akibat intensitas hujan tinggi.

“Untuk talud yang di Notoprajan yang melintasi Sungai Winongo sedang ditangani, jadi tim kita langsung turun untuk memperkuat struktur yang terdampak sebagai respons cepat terhadap kerusakan tebing. Sementara untuk talud yang berada di wilayah Baciro dan Prenggan masih dalam tahap perencanaan perbaikan,” terangnya.

Sementara talud longsor di wilayah Kricak yang melintasi Sungai Buntung, penanganan dilakukan melalui kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS). Sinergi ini dilakukan mengingat kewenangan dan skala penanganan yang memerlukan dukungan lintas instansi.

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *