Menurutnya, sebagian besar kerusakan terjadi pada struktur lama yang belum menggunakan sistem pondasi beton bertulang. Talud lama dari batu kali maupun bronjong lebih rentan terhadap perubahan debit air secara tiba-tiba.
“Kalau bronjong, ketika kawatnya sudah aus, kekuatannya hilang. Batu kali juga kalau tidak ada pondasi dan tulangan, lama-lama tergerus,” jelasnya.
Rahmawan Kurniadi menyebutkan pemkot mengalokasikan sekitar Rp7,5 miliar untuk pembangunan dan pemeliharaan talud. Anggaran tersebut mencakup pembangunan baru, pemeliharaan rutin di tiga sungai, serta penanganan insidentil dengan alokasi sekitar Rp2 miliar.
“Penguatan talud dan pemeliharaan berkelanjutan ini harapannya risiko longsor tebing sungai dapat ditekan, sekaligus menjaga keselamatan pemukiman warga yang berada di bantaran sungai,” pungkasnya. (*)
