PBTY XXI Resmi Dibuka, Intip Kemeriahan Akulturasi Jawa-Tionghoa di Jantung Kota Yogyakarta

Ia juga menekankan, budaya memiliki kekuatan menyatukan yang melampaui sekat-sekat identitas. Dengan mengangkat tema tersebut, PBYY diharapkan menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah modal sosial yang harus dirawat dan dikembangkan.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambut menilai festival ini menjadi ruang nyata untuk melihat akulturasi budaya yang tumbuh dan berkembang di Kota Yogyakarta. “Dengan adanya PBTY, masyarakat bisa melihat bagaimana akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa terjalin harmonis di Kota Yogyakarta. Ini menjadi kekayaan yang tidak dimiliki semua daerah,” ujarnya.

Menurut Hasto, PBTY juga menjadi salah satu destinasi wisata unggulan berbasis budaya di Kota Yogyakarta. Ia optimistis gelaran ini mampu meningkatkan geliat pariwisata, terlebih dengan semakin bertambahnya rute penerbangan baru ke DIY.

Tak hanya berdampak pada sektor pariwisata, PBTY juga memberikan efek ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Ratusan gerai UMKM turut meramaikan kawasan festival, mulai dari kuliner khas Tionghoa dan Nusantara, kerajinan tangan, hingga produk fesyen dan cendera mata.

“Event seperti ini membuka banyak peluang bagi pelaku UMKM, terutama sektor kuliner. Perputaran ekonomi meningkat, warga sekitar juga merasakan manfaatnya,” tambah Hasto.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga mengusulkan kepada panitia agar ke depan PBTY dapat menghadirkan kolaborasi lintas daerah, khususnya dengan Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Hasto berencana menemui Wali Kota Singkawang untuk membahas kemungkinan partisipasi kota tersebut pada PBTY tahun mendatang.

Mengapa Singkawang? Hasto menjelaskan, perayaan Imlek terbesar di Indonesia ada di dua Kota yakni di Kota Singkawang dan Kota Yogyakarta. Jika di Singkawang lebih menonjolkan sisi religiusitasnya, maka di Yogyakarta lebih kuat pada prosesi budayanya.

“Kalau keduanya digabungkan, akan sangat bagus. Bisa menjadi destinasi wisata berbasis Imlek yang kuat secara budaya dan spiritualitas,” katanya.

Kolaborasi tersebut diharapkan menciptakan aglomerasi budaya yang memperkuat posisi Kota Yogyakarta sebagai kota budaya sekaligus destinasi wisata tematik berbasis keberagaman.
Beragam kuliner yang dijajakan, mulai dari jajanan tradisional, makanan khas Tionghoa, hingga hidangan Nusantara, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Kawasan festival pun dipadati warga menjelang waktu berbuka puasa. Salah satunya adalah Rina, warga Kampung Tukangan ini mengaku senang dengan penyelenggaraan PBTY yang digelar bertepatan dengan bulan Ramadan. “Senang sekali ada acara seperti ini di Jogja, apalagi pas Ramadan. Bisa sekalian ngabuburit dan cari menu untuk berbuka puasa,” ujarnya. (*)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *