UNGARAN, Cakram.net – Memperingati hari jadi Kabupaten Semarang ke-505, Pemkab Semarang menggelar kegiatan Merti Bumi Serasi dan Jamasan Pusaka. Kegiatan ini tidak hanya bentuk ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan melestarikan budaya daerah.
Tradisi Merti Bumi Serasi dimulai dengan Susuk Wangan atau iriban atau mot banyu. Tujuannya adalah melakukan konservasi di sekitar sumber mata air. “Konservasi ini adalah upaya kita menjaga sumber daya alam, khususnya air, yang merupakan amanah bagi kehidupan kita dan generasi yang akan datang. Insyaallah ini dilakukan semua desa se-Kabupaten Semarag,” ujar Edy Sukarno, Juru Kunci Pusaka Kabupaten Semarang.
Selain membersihkan sumber mata air, juga menanam vegetasi serta melepas ikan dan burung sebagai simbol harapan untuk menjaga keseimbangan alam.
Air yang diambil dari berbagai sumber mata air di 19 kecamatan kemudian diserahterimakan antarkecamatan, dan dikirab menuju Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang untuk prosesi Jamasan Pusaka. Kirab dilakukan dua hari satu malam mulai Selasa 10 Februari hingga Rabu 11 Februari 2026. Pesan dalam prosesi tersebut, yaitu kesadaran untuk merawat alam harus terus diwariskan antar generasi.
Menurut Edy, jamasan pusaka adalah tradisi merawat benda pusaka yang diwariskan turun-temurun. Ada enam pusaka peninggalan Ki Ageng Pandanaran kedua yang juga Bupati Semarang yang pertama, yakni tombak, tiga keris, dan dua trisula. “Pusaka-pusaka ini bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga citra jati diri pemiliknya. Jamasan pusaka menggunakan air sebagai media yang melambangkan penguripan atau kehidupan,” kata Edy Sukarno.
