Peringatan Hari Jadi Kabupaten Semarang ke-505, Lestarikan Kearifan Lokal Lewat Merti Bumi Serasi dan Jamasan Pusaka

Penjamas pusaka, MA Sutikno menambahkan adanya tradisi jamasan pusaka ini diharapkan bisa mendorong generasi muda untuk terus melestarikan budaya yang adiluhung. “Cintailah budaya kita. Semoga budaya Kabupaten Semarang tetap terjaga dan lestasi,” imbuhnya.

Usai jamasan, prosesi dilanjutkan kirab pusaka mengeliligi Pendapa untuk kemudian disimpan di Gedong Pusaka yang berada di dalam rumah dinas Bupati Semarang. Saat kirab pusaka, peserta kirab tidak boleh bicara atau laku tapa bisu. “Laku tapa bisu ini simbol dari sepi ing pamrih, rame ing gawe. Karena kita diciptakan Tuhan untuk menjaga keseimbangan bumi,” ujarnya.

Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, menyampaikan acara Merti Bumi Serasi adalah wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil bumi yang diberikan kepada masyarakat Kabupaten Semarang. “Kegiatan ini juga sebagai bentuk pelestarian seni dan budaya daerah, khususnya pakaian gagrak Kabupaten Semarang yang menjadi seragam di Pemkab Semarang,” katanya.

Bupati mengungkapkan rasa syukurnya atas keberagaman hasil bumi yang dibawa dalam acara tersebut, mulai dari sayuran, padi, jagung, kelapa, hingga durian berongkol. Hasil bumi itu menjadi simbol keberkahan dan rezeki bagi masyarakat Kabupaten Semarang. “Kami memohon agar Kabupaten Semarang selalu dalam lindungan Tuhan, masyarakatnya diberikan kesehatan, dan Kabupaten Semarang terus berkembang menuju kesejahteraan yang lebih baik,” harapnya. (rbd)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *