Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Alam (OP SDA) IV BBWS Pemali Juana, Heri Santoso, mengungkapkan pihaknya telah memobilisasi sembilan alat berat untuk mempercepat penutupan tanggul di dua titik jebol. “Kami menurunkan lima alat di titik pertama, terdiri dari satu dozer dan empat ekskavator. Sedangkan di titik kedua ada empat ekskavator, ditambah satu alat kecil untuk normalisasi saluran irigasi,” ujarnya.
Heri menambahkan, target penutupan tanggul diperkirakan akan selesai dalam tiga hari, setelah itu akan dilakukan penguatan dengan bronjong dalam waktu tujuh hari. “Insyaallah, Jumat tanggul sudah tertutup, dan akan segera dilakukan penguatan,” jelasnya.
BBWS juga terus memantau debit air, mengingat cuaca yang masih ekstrem. Pengendalian aliran Sungai Tuntang dilakukan melalui dua titik kontrol, salah satunya di Bendung Gelapan, sesuai prosedur operasional standar (SOP).
Heri menjelaskan, walaupun Bendung Gelapan dapat menutup debit dari Rawapening, sumber terbesar tetap berasal dari Bancak, yang belum dilengkapi sistem buka-tutup debit. “Cuaca sangat memengaruhi kegiatan kami di lapangan,” tegasnya.
Sebagai informasi, Tanggul Sungai Tuntang jebol pada Senin, 16 Februari 2026, yang mengakibatkan putusnya jalur provinsi Semarang-Grobogan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jateng pun berencana untuk segera memasang jembatan armco dalam waktu satu pekan agar jalur raya bisa kembali dilalui. (*)
