Tak Lagi Terbuang, Karang Taruna Desa Manggihan Ubah Limbah Sayur Jadi Biogas Rumah Tangga

Ia menambahkan, jika warga menginginkan proses fermentasi yang lebih cepat dan tekanan gas yang lebih kuat, campuran sampah bisa ditambah dengan kotoran hewan (kohe).

Dampak nyata dari inovasi ini dirasakan langsung oleh Sulastri (40), seorang warga Desa Manggihan. Sejak beralih ke biogas, pengeluaran rumah tangganya untuk membeli elpiji 3 kilogram berkurang signifikan. “Dulu sebulan bisa butuh 4 sampai 5 tabung. Sekarang, dengan biogas ini, paling banyak hanya butuh tiga tabung,” ungkap Sulastri.

Menurutnya, pengoperasian alat tersebut sangat mudah bagi ibu rumah tangga. Sampah sayuran atau kulit buah cukup diiris kecil, dicampur air, lalu dimasukkan ke dalam drum.

Tak hanya berhenti pada gas untuk memasak, sisa produksi biogas atau slurry yang dihasilkan juga memiliki nilai guna. Cairan tersebut digunakan warga sebagai pupuk organik cair yang sangat baik bagi kesuburan tanaman di kebun mereka. (rbd)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *