“Sudah kami ambil sampel swab dan dikirim ke Balai Veteriner Semarang untuk pemeriksaan laboratorium. Sementara rekomendasi kami dipisahkan dari hewan lain, diobati hingga sembuh, dan tidak dijual untuk kurban tahun ini,” ungkapnya.
Selain PMK, Dispaperta juga memfokuskan pemeriksaan terhadap potensi penyakit Lumpy Skin Disease (LSD). Meski demikian, menurutnya, tren kasus kedua penyakit tersebut di Kabupaten Batang mulai mereda. “Fokus kami masih PMK dan LSD. Namun kasusnya sudah relatif menurun, hanya beberapa sapi pendatang yang perlu perhatian khusus,” tegasnya.
Dalam proses pemeriksaan, petugas mengecek sejumlah bagian tubuh hewan seperti area mulut, kulit, hingga kondisi fisik umum ternak. Untuk kambing, pengawasan juga diarahkan pada penyakit kulit seperti scabies.
Ambar menyebutkan, sebanyak 21 petugas kesehatan hewan diterjunkan dan disebar di 15 kecamatan untuk mempercepat proses pemeriksaan serta menjangkau seluruh titik penjualan hewan kurban.
“Dispaperta juga memprediksi jumlah hewan kurban tahun ini sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya. Pada Iduladha tahun lalu, jumlah sapi kurban mencapai lebih dari 1.500 ekor, sementara kambing berkisar 3.000 hingga 4.000 ekor. Perkiraan tahun ini sedikit berkurang, mungkin dipengaruhi kondisi ekonomi,” terangnya.
