Anak Tameng Terduga Teroris

Pagi itu, beberapa tahun silam, kantor kami kedatangan tamu yang tak biasa.

Seorang perempuan muda masuk dengan langkah yang tampak teguh, meski wajahnya menyimpan lelah yang panjang. Dipelukannya terlelap seorang bayi yang masih sangat kecil. Di sampingnya berjalan seorang anak laki-laki, mungkin berusia enam tahun.

Mereka datang dari tempat yang jauh. Jauh dalam arti yang sesungguhnya: menyeberangi pulau, menempuh perjalanan berhari-hari, membawa kecemasan yang tak ringan.

Sebagaimana para pencari keadilan lainnya, ia kami terima dengan prosedur yang sederhana. Tidak ada meja yang terlalu tinggi untuk didatangi, tidak ada pintu yang terlalu rumit untuk diketuk. Dua staf menerima pengaduannya. Kebetulan pagi itu pekerjaan saya tidak terlalu padat. Saya ikut mendampingi.

Mucikari Cilik

Pada awalnya ia berbicara dengan tenang.

Lalu perlahan suaranya pecah.

Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai jatuh satu demi satu.

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *