Berhenti Menyebut Anak Nakal

Mengapa Label Itu Begitu Berbahaya?

Pergeseran istilah ini bukan sekadar pemanis di atas kertas. Ada makna filosofis yang sangat dalam di baliknya. Tujuannya satu: menghapus stigma negatif.

Coba bayangkan, jika seorang anak terus-menerus dicap nakal, label buruk itu akan perlahan melekat dan menggerogoti jiwanya, yang konon dari kacamata psikologi, stigma ini bisa mematikan rasa percaya diri, merusak bayangan mereka tentang masa depan, dan menghambat mereka saat ingin kembali membaur dengan teman-temannya.

Sangat berbahaya, bukan? Dengan istilah ABH, hukum melihat anak dengan kacamata lebih jernih yang membaginya ke dalam tiga realitas: Anak yang berkonflik dengan hukum (anak sebagai pelaku).  Anak yang menjadi korban tindak pidana. Anak yang menjadi saksi tindak pidana.

Anak-anak ini harus diperlakukan secara khusus, dan tidak boleh disamakan dengan orang dewasa. Mengapa? Karena hukum memeluk mereka dengan asas lex specialis derogat legi generali, aturan khusus yang secara otomatis mengesampingkan aturan umum.

BACA JUGA : Mucikari Cilik

Pendekatan ini sangat selaras dengan prinsip utama perlindungan anak: memberikan yang terbaik bagi anak, the best interest of the child. Istilah ABH tidak menghakimi, melainkan melindungi dan mendorong mereka untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Stop Istilah Anak Nakal

Setiap anak lahir dengan rupa, bakat, dan keunikannya masing-masing. Mereka diciptakan oleh Tuhan dengan segala potensi sekaligus kekurangannya. Sebagai orang dewasa, tugas kita adalah memberi ruang yang aman.

Kita harus mendorong agar ragam potensi itu mekar sempurna, tentu dengan tetap membimbing mereka sesuai usia dan norma yang baik. Mari kita hentikan kebiasaan menggunakan istilah anak nakal. Terus-menerus menunjuk mereka dengan sebutan itu hanya akan mendorong mereka menjadi pribadi yang keras dan defensif.

BACA JUGA : Sanksi Bagi Orang Tua Lalai

Anak-anak adalah amanah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tugas kita sebenarnya sederhana, namun mulia: melindungi dan memastikan mereka tumbuh dengan baik, apa pun rintangan yang sedang mereka hadapi. (CSR)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *