Krisis Petani Muda, Dispertanikap Gandeng Disdikbudpora Kabupaten Semarang Luncurkan Program Penyuluh Masuk Sekolah

UNGARAN, Cakram.net – Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi ancaman krisis ketahanan pangan akibat penurunan drastis jumlah generasi muda yang berminat di sektor pertanian. Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) resmi berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang untuk meluncurkan program “Penyuluh Masuk Sekolah” dan “Pangan Lestari”, Senin 22 Juni 2026.

Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang, Muh Edy Sukarno, mengungkapkan bahwa wilayahnya saat ini tengah menghadapi ancaman serius berupa krisis sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian. Berdasarkan data terbaru, persentase petani berusia di atas 45 tahun di Kabupaten Semarang telah mencapai 77,6%, sementara porsi petani milenial menyusut hingga tersisa 11,8%.

“Dalam satu dekade terakhir, Rumah Tangga Usaha Pertanian (RUDP) kita berkurang 10,27%. Artinya, setiap tahun kita kehilangan lebih dari 1% petani, di saat jumlah penduduk terus bertambah. Jika tidak ada upaya keras menggandeng generasi penerus, ini akan menjadi bahaya besar bagi ketahanan pangan kita,” ujar Edy usai acara penandatanganan MoU di Kantor Dispertanikab Kabupaten Semarang di Ungaran, Senin 22 Juni 2026.

Edy menjelaskan, penurunan minat generasi muda dipicu oleh pergeseran mindset. Banyak anak-anak masa kini yang lebih memilih profesi modern seperti YouTuber, serta adanya stigma bahwa sektor pertanian itu kotor dan tidak sejahtera. Melalui program kolaborasi ini, para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) pertanian akan diterjunkan langsung ke SD dan SMP untuk memberikan literasi pertanian lewat praktik sederhana yang menyenangkan.

Selain menyasar pendidikan formal, kata Edy, Dispertanikap tahun ini juga menyiapkan tujuh paket pelatihan Sekolah Tani Milenial untuk pemuda usia 15–39 tahun. “Pelatihan tersebut fokus pada keterampilan teknis budidaya organik, kewirausahaan agro, hingga digital marketing guna memodernisasi sektor pertanian yang saat ini 73% pelakunya merupakan lulusan SD,” jelasnya.

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *