“Alhamdulillah, kebutuhan masyarakat masih bisa terpenuhi berkat bantuan dari relawan, instansi vertikal, dan lembaga di Kabupaten Semarang,” ujarnya.
Dalam praktiknya, BPBD sempat terkendala keterbatasan armada karena hanya memiliki empat unit truk tangki. Dalam sehari, keempat armada tersebut dikerahkan untuk melakukan pengiriman ke tiga lokasi berbeda, sehingga total mencapai 12 kali pengiriman per hari.
Kendati demikian, Muslih memastikan ketersediaan pasokan air masih mencukupi hingga musim hujan tiba pada November mendatang. “Kami masih punya 160 tangki. Jika habis, kami ada dana BTT (Belanja Tidak Terduga) dalam rangka pemenuhan air bersih,” tambahnya.
Dampak El Nino tidak hanya memicu krisis air bersih dan kebakaran, tetapi juga memukul sektor pertanian. Minimnya sumber air membuat para petani di sejumlah wilayah harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyedot air agar lahan pertanian mereka tetap produktif.
Sotyani (56), petani asal Dusun Setro, Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, mengaku terpaksa menyedot air dari aliran sungai yang masih tersisa demi mengairi lahan pertanian seluas 1,5 hektare sejak Agustus lalu. “Memang sulit air, tidak ada sumbernya. Kalau tidak menyedot air, ya tidak menanam,” kata Sotyani.
Ia menjelaskan, tantangan ini semakin berat lantaran sawah yang digarapnya merupakan jenis sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan alami. Untuk menyedot air dari sumber terdekat, ia harus merogoh kocek tambahan guna membeli bahan bakar minyak (BBM) sebanyak enam hingga tujuh liter dalam sekali penyedotan.
Sebagai langkah antisipasi menyikapi minimnya pasokan air, Sotyani memilih beralih menanam komoditas palawija yang lebih hemat air ketimbang padi. “Saya tanami kedelai dan edamame. Kalau ditanam padi itu pas turun hujan, karena di sini sawah tadah hujan,” pungkasnya. (rbd)
