Untuk menutup celah keterbatasan produksi lokal, Sukidi mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan dan ruang terbuka melalui urban farming. Pemanfaatan ruang dapat diwujudkan lewat lorong sayur, vertical garden, rooftop garden, hingga budidaya mandiri di lingkungan rumah. Selain itu, regenerasi petani turut menjadi perhatian melalui adopsi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) guna menarik minat generasi muda.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, menekankan bahwa kerja sama lintas wilayah menjadi kunci utama penyangga pangan kota. Pemerintah berkomitmen mempererat jaringan dengan daerah penghasil sekaligus mengantisipasi ancaman perubahan iklim terhadap stabilitas produksi dan distribusi.
Sementara itu, akademisi Masyhuri yang hadir sebagai narasumber menambahkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada kemampuan produksi mandiri, melainkan juga kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, serta diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras.
“Kota Yogyakarta memang memiliki keterbatasan lahan, tetapi kita dikelilingi daerah penyangga. Tinggal bagaimana kita memastikan pasokan dari daerah-daerah tersebut dapat didatangkan ke perkotaan dengan baik,” pungkasnya. (*)
