BOYOLALI, Cakram.net – Pemerintah Kabupaten Boyolali terus menggenjot inovasi sektor pertanian dengan memanfaatkan lahan kurang produktif (marjinal). Melalui Dinas Pertanian (Dispertan), Pemkab mendampingi petani beralih menanam komoditas ekspor baru, yakni okra dan edamame.
Langkah ini diwujudkan melalui kemitraan strategis dengan PT Kelola Agro Makmur Temanggung, perusahaan pengolah sayur beku yang berorientasi ekspor. Penanaman perdana tersebut dilangsungkan di halaman Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Tawangsari, Kecamatan Teras, Selasa (20/10/2026).
Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Boyolali Agus Irawan, Direktur Operasional PT Kelola Agro Makmur Sarwo Sugeng, serta Kepala Dispertan Boyolali Suyanta.
Sarwo memaparkan bahwa perusahaannya memproduksi hingga 5.000 ton sayur masak beku per tahun. Sebanyak 90 persen dari total produksi tersebut diekspor ke berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Prancis, Belanda, Kanada, dan Korea Selatan. Sementara itu, 10 persen sisanya diserap oleh pasar domestik, ritel, dan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sarwo memastikan kerja sama ini menguntungkan petani karena harga beli telah disepakati bersama sebelum masa tanam dimulai. “Ini akan menjadi sinergi yang luar biasa. Kami ingin menjadi alternatif pilihan untuk ketahanan pangan, sekaligus mendongkrak ekonomi masyarakat lewat hasil ekspor,” ujar Sarwo, dikutip dari portal resmi Pemkab Boyolali.
<!–nextpage–
Kepala Dispertan Boyolali, Suyanta, menjelaskan bahwa seluruh proses budidaya okra dan edamame dikelola ketat sesuai standar perusahaan—mulai dari penyediaan benih, pupuk, hingga obat-obatan—guna menjaga kualitas bahan baku ekspor.
Sebelumnya, program kemitraan ini baru berjalan di Desa Kunti, Kecamatan Andong, dan kini telah meluas ke tujuh kecamatan. Suyanta berharap pemanfaatan lahan kering dan marjinal ini tidak mengganggu lahan padi yang dipertahankan untuk swasembada pangan.
Dari segi produktivitas, tanaman okra memiliki masa panen yang sangat singkat, yakni 45 hari dengan frekuensi panen setiap hari demi menjaga mutu grade A. Harga jual grade A mencapai Rp7.400 per kilogram dan grade B Rp2.400 per kilogram. Adapun edamame memiliki masa tanam 70 hari yang memungkinkan petani panen hingga empat sampai lima kali dalam setahun.
Bupati Boyolali Agus Irawan menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengawal program ini dari hulu hingga hilir. Ia berharap Desa Tawangsari dapat menjadi project pilot bagi desa-desa lain dalam mengoptimalkan lahan tidur.
“Diharapkan program ini selalu berkelanjutan. Kalau hasil pertamanya bagus dan keberlanjutannya terjaga, tentu nanti bisa dikembangkan ke kelompok tani lainnya,” pesan Bupati Agus.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Agus turut menyerahkan sejumlah bantuan sarana prasarana pertanian kepada kelompok tani setempat. Bantuan tersebut meliputi satu unit pompa air untuk KT Marsudi Mulyo IV Desa Tawangsari, pupuk NPK dan ZA sebanyak 2.750 kilogram untuk KT Ngudi Luhur I Desa Kopen, satu unit irigasi tersier untuk KT Siti Panguripan I Desa Gumukrejo, serta hibah uang untuk Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) kepada KT Siti Panguripan II Desa Gumukrejo. (*)
