SALATIGA , Cakram.net – Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menciptakan alat pengolahan sampah organik skala rumah tangga bernama dekomposer contra flow. Inovasi berkapasitas 40 liter ini hadir sebagai solusi atas regulasi pelarangan pembuangan sampah organik ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Kota Salatiga.
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW, Dhanang Puspita, menjelaskan bahwa alat ini dirancang ekonomis dengan biaya pembuatan sekitar Rp100.000 untuk model drum hingga Rp200.000 untuk model tong. “Dekomposer contra flow merupakan jawaban atas keresahan warga Salatiga terkait aturan pelarangan pembuangan sampah organik ke TPS,” ujar Dhanang di sela pameran Gelar Inovasi Harmoni Nusantara (GIHN) di Balairung Utama UKSW, Kamis (10/9/2026).
Sistem kerja alat ini melibatkan tiga tahapan: pengadukan sampah organik, pemanfaatan mikroorganisme, dan dekomposisi menggunakan maggot. Proses tersebut menghasilkan kompos, pupuk organik cair, hingga maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Selain itu, alat ini mampu menghasilkan eco enzym dalam waktu singkat, yakni 6–9 jam. Cairan ini berfungsi meningkatkan kualitas kopi grade rendah menjadi setara grade A melalui proses fermentasi ulang, sehingga menaikkan nilai jualnya menjadi Rp12.000 per 10 gram dengan ongkos produksi Rp2.000.
“Pola ini termasuk green economy karena sumber daya yang berputar dan menciptakan kopi berkualitas. Margin keuntungannya lumayan,” kata
