SRAGEN, Cakram.net – Satpol PP Kabupaten Sragen mulai meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan menyusul penutupan lokalisasi Sunan Kuning (SK) Semarang. Hal ini untuk mengantisipasi adanya eksodus PSK (pekerja seks komersial) Sunan Kuning ke sejumlah lokasi wisata dan titik di Sragen yang selama ini identik dengan praktik prostitusi terselubung, salah satunya Gunung Kemukus.
“Kami sudah antisipasi masuknya PSK eks Sunan Kunning dengan mengintensifkan pantauan dan pengawasan di sana (Gunung Kemukus). Kemarin sudah kita lakukan operasi, hasilnya belum ada. Tapi kami tidak mau kecolongan, sehingga tim trantib dan petugas di wilayah Sumberlawang kita minta lebih mengintensifkan lagi pengawasannya,” ungkap Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Sragen, Heru Martono, Kamis (24/10/2019).
Menurut Heru, sejauh ini belum ada laporan perilah masuknya PSK eks Sunan Kuning ke Kemukus maupun ke obyek lain seperti Nglangon maupun Bayanan. “Mudah-mudahan dengan pengawasan intensif bisa dicegah,” tandasnya.
Salah satu tokoh di Kemukus Desa Pendem, Sumberlawang, Yan menuturkan fakta di lapangan praktik prostitusi terselebung di objek wisata Gunung Kemukus masih tumbuh subur, kendati sudah ditutup untuk prostitusi oleh Pemprov Jateng tahun 2014. Hanya saja, saat ini para penjaja jasa pemuas syahwat itu tidak lagi vulgar ketika mencari para lelaki hidung belang. Menurutnya, sebagian besar PSK di Kemukus berasal dari luar Kabupaten Sragen, seperti Pantura dan sebagian Jawa Timur.
“Ramainya pas malam Jumat waktu hari ritual, pengunjungnya banyak itu, modusnya di warung-warung, tapi aslinya praktiknya ya begitu (PSK). Kalau ada lokalisasi di luar daerah yang tutup, kadang ada yang larinya ke sini,” ungkap Yan.
Seperti diberitakan, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan resmi menutup resosialisasi Argorejo atau yang dikenal dengan Sunan Kuning pada Jumat (18/10/2019) lalu. Sebanyak 448 penghuni Sunan Kuning diminta untuk ‘berhijrah’ dengan mencari pekerjaan lain yang lebih baik. (Noel/dhi)
