TUNTANG (Cakram.net) – Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan perilaku masyarakat Jawa Tengah memilah sampah sesuai jenisnya di rumah masih rendah. Padahal memilah sampah organik dan nonorganik dari rumah tangga sebelum dibuang ke tempat sampah sangat penting, agar bisa menjadi barang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
‘’Selama ini kita selalu memikirkan dan membangun TPA (tempat pembuangan akhir sampah) , ternyata itu kurang efektif. Sebenarnya yang penting adalah budaya memilah sampah mulai dari rumah tangga. Setelah dipilah, sampah organik dan nonorganik bisa disetorkan ke industri-industri atau sentra-sentra pengolahan sampah, sehingga sampah menjadi barang bernilai guna,” kata Taj Yasin di sela Kongres Sampah 2019 yang digelar Pemprov Jateng di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (12/10/2019).
Taj Yasin mengungkapkan, permasalahan sampah di Indonesia sudah sangat serius. Apalagi Indonesia menjadi negara penyumbang sampah terbesar setelah Cina. ‘’Melalui Kongres Sampah ini diharapkan bisa menghasilkan solusi penanganan masalah sampah di Jawa Tengah, cara atau konsep bagaimana mengelola sampah dengan baik, meningkatkan SDM terkait pengelolaan sampah, dan aktivitas bank sampah. Ini sesuai permintaan Presiden RI Joko Widodo, pada tahun 2025 Indonesia harus bisa mengurangi 35 persen sampah, sehingga beragam sampah yang dihasilkan warga ataupun industri tidak terbuang sia-sia,’’ ungkapnya.
Menurut Taj Yasin, yang tidak kalah penting adalah mendorong masyarakat untuk membuat, memasarkan, dan menggunakan produk-produk berbahan sampah. Sebab tidak sedikit warga yang telah mengolah sampah menjadi barang berharga tetapi tidak ada yang membeli atau memanfaatkan produk berbahan sampah. ‘’Kongres Sampah ini yang pertama, dan diharapkan tidak hanya berhenti di Kabupaten Semarang tetapi berlanjut ke 35 kabupaten dan kota di Jateng dan seluruh daerah di Indonesia. Para peserta diharapkan menjadi virus dan menyebarkan kemana-mana, itu tujuan kita adakan kegiatan ini,’’ ujarnya.
Dalam upaya pengurangan sampah, kata Taj Yasin, beragam program terus digiatkan Pemprov Jateng sebagai upaya pengurangan sampah. Salah satunya gerakan membawa air minum sendiri dalam botol, penggunaan tempat minum nonplastik, tidak menggunakan tempat minum kemasan plastik di lingkungan kantor dan acara-acara lain yang terkait dengan kedinasan, gerakan tempatkan sampah pada tempatnya, serta resik-resik sampah di lingkungan tempat kerja.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rosa Vivie Ratnawati mengatakan gerakan memilah sampah dari rumah menjadi kunci dalam penanganan sampah di Indonesia. ‘’Ayo kita gencarkan bank sampah, kita sukseskan sampah membawa berkah, sehingga sampah tidak lagi dibuang ke TPA tetapi residunya yang dibawa ke TPA,’’ pintanya.
Menurutnya, pemilahan sampah sejak di rumah tangga merupakan kunci kesuksesan pengelolaan sampah. ‘’Semua masyarakat juga wajib mengurangi sampah mulai dari dirinya sendiri, di antaranya membiasakan tidak pakai sedotan plastik dan tidak menggunakan plastik untuk bungkus makanan,’’ katanya. dhi
