REMBANG, Cakram.net – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen berharap para santri tidak hanya pandai membaca Alquran secara tekstual, tapi juga harus bisa membaca Alquran secara kontekstual. Sehingga apa yang terkandung dalam nilai-nilai Alquran bisa dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap santri yang diwisuda ini bisa ikut andil dalam membangun kebersamaan di masyarakat. Selain itu, berbekal Alquran dan pelajaran yang didapat selama belajar di pondok pesantren, para santri dapat menjadi panutan masyarakat,” ujar Taj Yasin Maimoen saat memberi sambutan pada Haflah Khotmil Quran ke-6 Bin Nadzri dan Bil Hifdzi di Auditorium MGS Karangmangu, Sarang, Rembang, Jumat (8/11/2019).
Putra ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair itu berharap, para santri yang diwisuda bertepatan pada bulan Maulid benar-benar bisa memahami dan mempraktikkan amalan-amalan yang terkandung dalam Alquran, seperti halnya Rasulullah yang selalu mengamalkan dan menjalankan perintah Allah.
“Perlu diingat bahwa ketika nanti kembali kepada keluarga dan kembali kepada masyarakat, saya berharap adik-adik ini bukan hanya membawa bendera Pondok Sarang, tetapi lebih dari itu sebagai individu yang mengemban tanggungjawab penghafal yang mampu mengamalkan Alquran,” katanya.
Setelah keluar dari ponpes, kata dia, para penghafal Alquran akan selalu diawasi oleh masyarakat, terutama menyangkut akhlak, perilaku atau sikap dalam kehidupan bermasyarakat, serta apakah bisa menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya.
“Kami mempunyai harapan besar terhadap para santri, sehingga kami pun peduli terhadap santri. Alhamdulillah sejak tahun pertama saya dan Pak Ganjar dilantik, kami memiliki beberapa program pemberdayaan santri dan memajukan pondok pesantren,” beber Gus Yasin, panggilan akrab Taj Yasin Maimoen.
Beberapa program yang digulirkan Pemprov Jateng, antara lain menggalakkan potensi dan posisi pondok pesantren menggalakkan posisi pondok pesantren, memberdayakan santri menjadi enterpreneur atau wirausaha. Sehingga setelah lulus dari ponpes bisa mandiri secara ekonomi.
“Untuk para santri yang khatam 30 juz dan diwisuda, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan perhatikan melalui bantuan Rp 1 juta untuk satu hafid,” ungkap Gus Yasin yang pada kesempatan itu juga menyerahkan insentif kepada sejumlah santriwati yang telah khatam 30 juz dan diwisuda. (dhi)
