BANTUL, Cakram.net – Lima orang mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati dan wakil bupati untuk berkontestasi dalam Pemilihan Kepala Daerah 2020 di Kabupaten Bantul melalui penjaringan yang dibuka Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Bantul.
“Yang sudah daftar ada lima orang, dua orang (mendaftar) sebagai calon bupati dan tiga orang sebagai calon wakil bupati. Kemungkinan masih bisa bertambah lagi karena pendaftaran sampai besok (5/2),” kata Wakil Ketua Tim Pemenangan Pemilu DPD Partai Golkar Bantul Widodo di sela menerima formulir pendaftaran di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (4/2/2020).
Lima pendaftar tersebut, yakni Suharsono (Bupati Bantul) yang mendaftar sebagai calon bupati, kemudian Ketua PGRI Bantul yang mendaftar sebagai calon wakil bupati, Ketua DPD PAN Bantul Mahmud Ardi Widhanto sebagai calon bupati dan pengusaha Dewata Eka Putra sebagai calon wakil bupati.
Selanjutnya, Erwin Nizar yang merupakan kader internal partai berlambang pohon beringin tersebut menjabat Wakil Ketua Organisasi Kaderisasi DPD Golkar DIY. Erwin mendaftar sebagai calon wakil bupati.
“Akan tetapi, prosesnya (kandidat dari internal) tetap sama dengan yang lain karena istilahnya kalau ada penjaringan di internal jangan-jangan nanti dikira dari Golkar cuma itu saja, terus tidak ada lainnya,” kata Widodo.
Meski demikian, kata dia, masih ada dua kandidat lain yang sudah mengonfirmasi untuk mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon ke DPD Golkar, yaitu Kompol Kusila (anggota Polres Bantul) sebagai calon bupati dan Suprianto (politikus PBB) akan mendaftar sebagai calon wakil bupati.
Terkait dengan koalisi Partai Golkar dalam mengusung pasangan calon bupati dan wakil bupati, Widodo mengatakan bahwa pihaknya masih akan menunggu hasil penjaringan selesai, kemudian dikomunikasikan dengan DPD DIY maupun DPP.
Ia mengatakan bahwa ada beberapa parpol lain seperti PAN yang mengajak koalisi.
“Dalam hal koalisi tentu saja nanti, terutama visi dan misi, kemudian calon bupati dan wakil bupati hasil penjaringan dari DPD Golkar ini nanti cocok tidak, sama tidak dengan PAN. Kalau sama, berarti visi dan misi sama sehingga saya kira sangat mungkin sekali berkoalisi,” katanya.
Kalau parpol yang ikut berkoalisi dengan Golkar bertambah banyak, menurut dia, koalisinya lebih kuat sehingga apabila lebih dari dua partai, bahkan tiga atau empat partai hasilnya lebih baik dan peluang untuk memenangi pilkada.
“Penjaringan ini tentu saja kami menggunakan mekanisme maupun juklak (petunjuk pelaksanaan) dari DPP Golkar. Kalau (visi dan misi) sudah sesuai, kemudian kebetulan cocok, dan kami sama-sama maju, tentu kami siap untuk berkoalisi,” katanya. (Ant)
