UNGARAN, Cakram.net – Keberadaan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) menjadi perhatian Kementerian Sosial (Kemensos) karena penyandang tuna sosial yang terdampak COVID-19 diperkirakan meningkat. Perhatian itu salah satunya diwujudkan dalam bentuk pemberian bantuan melalui program Jaring Pengaman Sosial (JPS) maupun lewat Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS).
Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos, Harry Hikmat mengatakan masyarakat penyandang tuna sosial antara lain gelandangan, pengemis, pemulung, eks napiter serta korban pedagangan orang. Saat ini ada kelompok baru di kota-kota besar yakni manusia silver, atau orang yang mengecat tubuhnya dengan cat warna perak dan mengemis di jalan.
“Penyandang tuna sosial terdampak COVID-19 diperkirakan meningkat. Adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat mereka kesulitan untuk mencari uang, termasuk pemulung tidak bisa leluasa mengambil barang bekas di perkampungan dan pemukiman penduduk karena dilockdown secara lokal,” ungkapnya usai acara penyaluran bantuan sembako bagi tuna sosial dan warga terdampak COVID-19 di Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang, Rabu (8/7/2020).
Menurut Harry, keberadaan penyandang tuna sosial menjadi perhatian Kemensos karena dikhawatirkan menjadi carrier COVID-19. Sehingga mereka perlu mendapat bantuan, baik melalui program JPS dengan pemberian bantuan sembako atau bantuan sosial tunai (BST) serta bantuan melalui LKS yang mendampingi tuna sosial.
“Seperti hari ini kita menyalurkan bantuan untuk tuna sosial melalui LKS. Total ada 974 paket sembako untuk empat kabupaten/kota di Jawa Tengah, di antaranya Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Batang,” katanya.
Harry mengungkapkan, pemerintah menjalin kerja sama dengan LKS untuk membendung PMKS agar mereka tidak keluar.
“Kita edukasi mereka tentang protokol kesehatan, termasuk penerapan pola hidup bersih dan sehat. Mereka kita berikan bantuan agar tetap survive,” ujarnya.
Kata Harry, pendekatan dan pemberdayaan komunitas PMKS dengan melibatkan LKS yang berhasil diterapkan di DKI Jakarta. Diharapkan kabupaten/kota lain untuk melakukan hal serupa.
Bupati Semarang dr Mundjirin mengatakan, sebanyak 300 paket bantuan sembako dari Kemensos diserahkan melalui LKS Keramas Ungaran untuk dibagikan ke tuna sosial dibawah binaan lembaga tersebut.
“Untuk pembinaan kelompok tuna sosial dilakukan lewat LKS yang ada di Kabupaten Semarang, yayasan-yayasan itu bekerja 24 jam nonstop. Kalau ada masyarakat menemukan orang tuna sosial bisa diserahkan ke LKS agar ditangani di sana,” katanya.
Sementara Kepala Dinsos Kabupaten Semarang, M Gunadi mengaku saat ini pihaknya belum memiliki data update kelompok tuna sosial di Kabupaten Semarang. Namun jumlah tuna sosial terbanyak adalah pengamen.
“Selain menggandeng LKS, kita juga akan mendata lewat kepala desa untuk kita berikan bantuan sosial,” imbuhnya. (dhi/Cakram)
