UNGARAN, Cakram.net – Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang, Sukaton Purtomo Priyatmo menyebutkan saat ini masih ada 25 sekolah di Kabupaten Semarang kesulitan mengakses internet. Kondisi itu menjadi kendala dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring.
“Sekolah yang susah sinyal internet tersebar di beberapa desa, dari 208 desa dan 27 kelurahan yang ada di Kabupaten Semarang. Sampai sejauh ini wilayah desa atau kelurahan yang kesulitan untuk menerapkan sekolah daring tersebar di Kecamatan Ungaran Barat, Pringapus, Banyubiru, Bringin dan Kecamatan Kaliwungu,” ungkap Katon, sapaan akrab Sukaton Purtomo Priyatmo, Jumat (18/12/2020).
Untuk mengatasi kendala itu, lanjut Katon, Disdikbudpora Kabupaten Semarang menerapkan kebijakan kepada guru di wilayah susah sinyal internet melakukan kunjungan ke rumah peserta didik. Karena di masa pandemi COVID-19 tidak ada pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah.
“Kami mengintensifkan guru berkunjung ke rumah siswa untuk melakukan pembelajaran kepada peserta didik. Sebab siswa yang kesulitan sinyal internet tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh,” jelasnya.
Menurut Katon, tantangan dunia pendidikan di masa pandemi COVID-19 semakin kompleks, baik bagi peserta didik, guru maupun masyarakat atau wali murid. Kegiatan belajar mengajar (KBM) yang semula dilakukan secara tutup muka dialihkan menjadi daring (dalam jaringan) atau online menyusul adanya larangan berkerumun guna mencegah penyebaran COVID-19.
“Selama pandemi COVID-19 kami juga melakukan pola buka tutup pembelajaran tatap muka di sekolah. Sesuai surat keputusan bersama empat menteri, kami menerapkan zonasi tingkat desa atau kelurahan,” katanya.
Katon menjelaskan, untuk mengatasi beragam tantangan atau kendala yang ada terpaksa dilakukan metode pembelajaran dengan tiga pola, yakni pembelajaran luar jaringan (Luring), Daring dan PTM.
“Pembelajaran tatap muka tidak identik siswa datang ke sekolah tetapi guru berkunjung ke siswa termasuk PTM, khususnya di daerah yang kesulitan sinyal internet. Rencananya kami juga akan memanfaatkan HT (handy talkie), sudah uji coba di Banyubiru,” imbuhnya. (dhi)

Selain kendala Jaringan Internet, Siswa kami juga belum semua memiliki androit. HP yang digunakan peserta didik milik orang tua dan dibawa bekerja otomatis peserta didik tidak bisa mengikuti pelajaran pada jam yang dijadwalkan sekolah, dan masih banyak kendala lain yang kami rasakan selama PJJ