“Dari wilayah Boyolali ini jahe dan kencur juga. Tapi kita juga cari yang kualitasnya bagus. Kemudian kalau jahe merah kita ambil dari Sumatera dan Pacitan,” kata Suwarno.
Suwarno mengatakan, saat ini permintaan terbanyak adalah kayu secang, jinten hitam, jahe dan manis jangan. Permintaan ini datang dari wilayah Jakarta, Semarang, Surabaya dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
“Kalau bahan bahan baku seperti jahe, kayu secang, jinten hitam ini hampir seminggu sekali, dan paling lama dua minggu sekali pengiriman barang ke sejumlah pabrik jamu di wilayah Indonesia,” jelasnya.
Kata Suwarno, per minggu rata-rata dapat mengeluarkan bahan baku empon-empon sekitar 20 sampai 30 ton. Untuk harga bervariasi, kapulogo per kilogram Rp45 ribu, secang Rp25 ribu dan jahe Rp47 ribu.
“Ya kalau harga itu bervariasi, tergantung jenis barangnya,” ujarnya.
Lebih lanjut Suwarno mengatakan, kondisi musim sekarang tidak menentu, sehingga dapat mempengaruhi pola penjemuran empon-empon. Selain itu, di masa penghujan tahun ini juga mempengaruhi bahan baku yang didatangkan dari para petani.
“Kalau musim sekarang ini, para petani belum masa panen. Ada keterlambatan sedikit untuk bahan baku jenis jahe. Saat musim penghujan juga mempengaruhi penjemuran yang berakibat terhadap kualitas barang,” imbuhnya. (Cakram)
