“Potensi panas bumi di Jawa Tengah secara hipotetik diperkirakan sebesar 2.500 megawatt atau 5,7 persen dari seluruh cadangan nasional sebesar 29.000 megawatt. Adapun yang sudah operasional di Dieng dengan kapasitas kurang lebih sebesar 1 x 60 megawatt atau 5,1 persen dari kapasitas total nasional yang sebesar 1.189 megawatt,” urainya.
Pengembangan energi dari dari non fosil juga dilakukan dengan memanfaatkan kotoran ternak, dan limbah pabrik tahu untuk biogas. Masyarakat Jawa Tengah antusias dalam memanfaatkan energi ini. Buktinya dapat dilihat pada pengembangan biogas di Boyolali dan Wonogiri. Melalui stimulus di beberapa demplot oleh pemerintah daerah dan organisasi non pemerintah, masyarakat mau mengembangkan secara mandiri energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi sebagai pengganti LPG.
Wagub berpesan, masyarakat luas harus mengetahui pengembangan energi baru terbarukan yang tengah digencarkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Maka, tim Jelajah Energi Jawa Tengah diminta pihaknya untuk gencar berkampanye di semua tempat yang nantinya dilalui maupun dikunjungi. Keberhasilan dalam mengembangkan EBT, nantinya akan menambah kesejahteraan masyarakat karena mereka dapat menghemat biaya energi hingga 30%. Di samping itu, dapat menekan kerusakan lingkungan.
Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Sujarwanto Dwiatmoko menyampaikan, tim Jelajah Energi Jawa Tengah akan berlangsung selama 4 hari (28 Juni – 1 Juli 2022). Tim antara lain akan berkunjung ke Cilacap untuk melihat bagaimana sampah yang dikelola di TPA dapat menjadi energi yang dikonsumsi untuk industri semen. Mereka juga akan melihat bagaimana rumah sakit memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya, dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah untuk pertanian di Banyumas.
“Semua rangkaian ini dimaksudkan agar menjadi greget bagi semua, untuk masyarakat menuju transisi energi yang berhasil,”katanya. (rls)
