“Selain dari lapisan teknis, ancaman itu juga bisa masuk pada lapisan sosial yang celahnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita menggunakan smartphone dan terhubung ke internet, maka rentan sekali kita menjadi target propaganda lewat berita hoax yang bisa mempengaruhi dan menyesatkan pada hal negatif. Inilah kenapa kita harus sadar dan waspada untuk terus menambah literasi sebanyak mungkin,” tambahnya.
Sementara itu, Yenty Joman menyatakan kalau evolusi teknologi yang terjadi pada dasarnya tidak bisa dihindari. Untuk itulah untuk menghadapi kemajuan teknologi yang ada, sumber daya manusia yang ada harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin.
“Suka tidak suka mau tidak mau kita dipaksa untuk hidup berdampingan dengan tren teknologi. Tapi yang perlu dipahami adalah kita bisa memanfaatkan teknologi ini untuk kehidupan yang lebih baik. Seperti munculnya peluang-peluang profesi baru yang semakin beragam,” tandasnya.
Kemudian Respati Budi Sasongko mengungkapkan, sejauh pengalamannya di dunia siber hal yang juga harus dipahami adalah tentang nilai, norma, dan hukum yang berlaku. Sebab sangat memungkinkan para ahli siber yang menggunakan keahliannya untuk kepentingan yang tidak baik. (Cakram)
