“Khusus untuk pertanian, tembakau menjadi salah satu tanaman andalan yang dibawa untuk diperkenalkan kepada para petani di daerah ini. Bahkan, kabarnya benih tembakau yang dibawa oleh Ki Ageng Makukuhan merupakan pemberian langsung dari Sunan Kudus,” katanya, dilansir dari temanggungkab.go.id, Jumat 5 Agustus 2022.
Dari jejak sejarah inilah, tak heran apabila sektor pertanian menjadi soko guru atau pondasi utama masyarakat di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Terlebih komoditas tembakau yang mendapat julukan sebagai ‘Emas Hijau’ karena bernilai ekonomis sangat tinggi.
Agus menyebut, terdapat cerita terkait asal nama tembakau itu sendiri. Dikisahkan, tembakau pada dasarnya berasal dari kata “Tambaku” yang dalam bahasa Jawa berarti “Tombo” atau obat.
“Saat proses penyebaran agama di wilayah Kedu Raya pada waktu itu, kondisi tanah di pegunungan Sumbing, Sindoro, dan Prau sangat gersang, tak ada satupun tanaman yang mampu tumbuh secara baik. Hingga akhirnya Ki Ageng Makukuhan membawa bibit tembakau untuk ditanam di lahan-lahan kritis. Hasilnya tembakau mampu menjadi tombo atau obat atas keterpurukan ekonomi petani saat musim kemarau mengingat nilai jual tembakau yang sudah sangat tinggi di masa lalu,” terangnya.
Dari sejarah itulah, tanaman tembakau tak sekadar pertanian saja, namun menjelma menjadi budaya, bahkan jati diri kearifan lokal. Dari lereng Sumbing ini pula kerap muncul tembakau srintil tembakau kualitas nomor satu dunia yang harganya cukup tinggi antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah per kilogramnya. Dari tembakau, jutaan orang bergantung hidup dari hulu hingga ke hilir, bahkan negara pun kecipratan pemasukan dari cukai yang nilainya mencapai triliunan rupiah.
