“Kalau kemiskinan ekstrem itu diukur pengeluaran mereka Rp 400 ribu, bagaimana kemudian pengeluarannya lebih dari itu sehingga nanti secara indikator itu akan bertemu. Hasil analisis sementara kita oiya mereka tidak bekerja maka mereka butuh pekerjaan. Bagaimana cara bekerja cepat,” jelasnya.
Terkait pekerjaan ini, intervensi yang dilakukan adalah memetakan perusahan yang ada di Pemalang dan Brebes. Ganjar mengajak perusahaan agar memberikan lapangan pekerjaan bagi warga dari keluarga miskin ekstrem.
“Ternyata mereka mau menerima bahkan kemudian yang unskill pun mau diterima, tapi jangan dong memberikan kepada perusahaan kok yang unskill, pemerintah harus melatih. Maka perusahaan-perusahaan ini kita ajak bekerjasama agar menerima mereka-mereka yang tidak bekerja dan berada dalam keluarga miskin ekstrem,” kata Ganjar.
Intervensi terakhir yang dilakukan adalah memberikan akses pendidikan kepada anak dari keluarga miskin. Akses sekolah sangat dibutuhkan karena rata-rata indikator kemiskinan adalah mereka tidak sekolah.
“Maka saya minta cari orangnya dalam tanda petik harus berangkat ke sekolah, kami memberikan fasilitasnya. Mudah-mudahan dari SMK Jateng ada tiga terus tambah 15 jadi ada 18, mereka bisa kita titipkan ke sana. Dengan kebijakan, harapan kita mereka bisa sekolah, kemudian indikator kemiskinannya bisa kita selesaikan,” terang Ganjar. (rls)
