Kepala SBTH Kota Magelang, Gerardus Edi Prasetyo memaparkan, pihak sekolah memfasilitasi semua agama yang dianut oleh siswa, guru dan civitas akademika. Fasilitasi tersebut mulai dari fasilitas pendidikan sampai beribadah.
Bahkan, setiap perayaan hari besar agama semua civitas akademika turut merayakan. Ini agar setiap siswa memahami dan menghormati agama yang dianut oleh siswa lainnya.
“Setiap agama difasilitasi. Kalau Ramadhan kami ada kegiatan bagi-bagi takjil dan halal bi halal. Lalu Natal, Waisak, Tahun Baru Imlek dan lainnya. Selain itu, kami juga ajarkan sejarah kebudayaan misalnya dengan wayang potehi, sejarah kue bulan (mooncake) dan sebagainya,” terang Edi.
Sementara itu Ketua Satuan Tugas (Satgas) IKT Kota Magelang Catur Adi Subagio menambahkan, toleransi di Kota Magelang sebenarnya sangat terjaga, terbukti di kawasan Alun-alun berdiri tempat-tempat ibadah yang besar, yakni Masjid Agung Kauman, Kelenteng TITD Liong Hok Bio, GPIB, dan Gereja Ignatius.
Satgas IKT, bertugas fokus meningkatkan indeks penilaian Kota Magelang. Pada tahun 2022 lalu, IKT Kota Magelang turun, sehingga peringkatnya melorot dari sebelumnya di posisi 6 Kota Toleran di Indonesia menjadi posisi 10 secara nasional.
“Kita sudah bekerja sesuai dengan tahapan-tahapan. Di awal kita sudah klarifikasi ke sejumlah pihak soal anggapan adanya unsur intoleransi pada PPDB tingkat SMP tahun 2022 lalu dan hasilnya tidak ada indikasi itu,” tuturnya.
