“Itu lumrah. Ada El Nino atau tidak, luas tanam padi sawah di Wonogiri ya tetap berkurang banyak saat kemarau. Tetapi bukan berarti produksi padi kami dalam setahun defisit. Kami tetap bisa surplus,” ungkapnya.
Ridwan menjelaskan berdasarkan jenis pengairan, pertanian padi sawah di Wonogiri dibagi menjadi tiga yaitu sawah irigasi, tadah hujan, dan pasang surut. Masing-masing jenis tersebut ada yang bisa tanam satu, dua, atau tiga kali masa tanam dalam setahun bergantung kondisi wilayah. Mayoritas lahan sawah di Wonogiri menggunakan pola irigasi yang bersumber dari embung, waduk, atau sumber mata air.
Ridwan menguraikan, Dispertan Pangan Wonogiri biasa membagi masa tanam (MT) dua kali dalam setahun. MT I mulai Oktober-Maret sedangkan MT II April-September. Luas tanam MT II biasanya setengah dari MT I karena bersamaan dengan kemarau.
“Pengurangan luas tanam padi di Wonogiri itu sangat bisa dipahami, karena saat kemarau seperti sekarang ini sumber-sumber air untuk irigasi sawah mengering. Akibatnya lahan sawah itu tidak berproduksi,” kata Ridwan.
Dari data Dispertan Wonogiri, luas tanam padi sawah pada Oktober 2021-Maret 2022 atau MT I sebanyak 45.154 hektare. Sedangkan luas tanam padi sawah pada April 2022-September 2022 seluas 20.086 hektare.
Sementara itu, luas tanam padi sawah pada Oktober 2022–Maret 2023 tercatat 50.692 hektare. Sedangkan luas tanam padi sawah pada pada April-Agustus 2023 seluas 15.304 hektare. Luas tanam pada September biasanya tidak lebih dari 1.000 hektare.
