“Motif yang khas dari kami itu jumputan latar ringkel, kami memilih itu karena kalau dilihat di pasaran masih sedikit yang memadukan dua teknik itu. Hasilnya juga lebih cantik, kain tidak terkesan kosong. Jumputan sendiri kan agak berjarak ya jadi terlihat lebih meriah tapi juga bagus,” tandasnya.
Penjualannya pun dilakukan secara beragam, mulai dari toko, media sosial, e-commerce sampai mulut ke mulut. Tidak hanya melayani pesanan kain batik jumputan, juga membuka pelatihan membatik.
“Pelatihan kami buka untuk umum, mulai dari anak-anak, pelajar, dewasa. Harga yang kami patok juga adorable tergantung seberapa lebar kain yang diinginkan. Misalnya, kemarin kami menerima tamu dari Kendari, mereka ingin belajar membuat batik jumputan. Mereka menginginkan sebesar taplak meja itu kami beri harga Rp 70.000 sementara kalau menginginkan kain yang berukuran 2 meter itu bisa mencapai Rp 300.000 lebih,” ujar Marina.
Sementara itu, Kepala Dinas PKU Kota Yogyakarta Tri Karyadi mengatakan pihaknya telah berkomitmen untuk mengedepankan potensi lokal, penyedia barang dan jasa. Salah satunya sentra industri batik yang ada di Kota Yogyakarta dapat dimaksimalkan pada pengadaan seragam atau cindera mata.
“Kami mendampingi pelaku UKM dan IKM di Kota Yogyakarta, pembinaannya tidak hanya memasarkan produk secara online tapi didampingi mulai dari membuat konten pemasaran hingga bisa memasarkan melalui aplikasi mobile shoppingnya. Sehingga kegiatan ini banyak dimanfaatkan dan dioptimalkan oleh pelaku,” kata Tri Karyadi. (*)
