“Saya anak petani, dulu telur satu dibagi enam. Tapi saya bisa jadi gubernur. Kalian pasti bisa lebih dari saya,” ucapnya.
Luthfi hadir menyaksikan langsung pelepasan 101 siswa dari berbagai daerah di Jateng, DIY, dan Madiun Raya. Semuanya berasal dari keluarga kurang mampu desil 1. Namun prestasi mereka membanggakan, sebanyak 85 orang diterima di perguruan tinggi negeri terbaik, tujuh orang di perguruan tinggi luar negeri, tujuh orang di perguruan tinggi swasta ternama, dan dua orang di politeknik.
“Ini adalah bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kita berupaya memangkas kemiskinan dari sektor pendidikan,” ujar Luthfi.
Gubernur menekankan, tidak semua orang mampu mengubah garis kemiskinan begitu saja. Namun, melalui pembiayaan dan pemberian beasiswa, anak-anak dari keluarga prasejahtera kini bisa mengakses pendidikan bermutu dan menunjukkan prestasi.
Siswa dari Purworejo, Esa, yang juga anak tunggal dari ibu single parent, telah diterima di IPB jurusan Proteksi Tanaman. “Sekarang sedang proses daftar KIP, biar bisa lanjut kuliah dengan beasiswa,” katanya.
Sementara, Daffa Aziz Firmansyah dari Cilacap, paling mencuri perhatian. Lantatan anak seorang petani yang kini sakit stroke, diterima di 14 kampus luar negeri, termasuk University of Sydney, Monash University, dan Nanyang Technological University (NTU).
Suwarti, ibunda Daffa, teris bersyukur. Berprofesi sebagai petani, dia tak pernah mengira anaknya dapat terus melanjutkan pendidikan. Bahkan, diterima di perguruan tinggi di luar negeri.
Ketua CT Arsa Foundation, Anita Ratnasari Tanjung menyebut, sekolah itu lahir dari semangat memutus rantai kemiskinan.
“Cikal bakal kami dari tsunami. Kami menyekolahkan anak-anak Aceh dan Medan. Tahun 2010 kami mulai dirikan sekolah. Sekarang sudah 147 sekolah dan masjid berdiri. CT Arsa ditunjuk sebagai percontohan sekolah rakyat,” jelasnya. (*)
