Menurut Yonas, IPH mampu menggambarkan pergerakan harga harian atau mingguan di pasar tradisional. Melalui data tersebut, pemerintah dapat mendeteksi potensi tekanan inflasi lebih awal sebelum rilis resmi data inflasi bulanan oleh BPS.
“IPH menjadi alat deteksi dini yang membantu TPID merespons secara cepat dan tepat,” tambahnya.
Sementara itu, Statistisi Ahli Madya BPS RI, Tommy Hardiyanto, menjelaskan BPS berperan dalam memastikan metodologi dan penghitungan IPH dilakukan secara tepat. Ia menekankan pentingnya kualitas dan konsistensi data harga sebagai dasar akurasi perhitungan.
“IPH pada dasarnya dipengaruhi oleh perubahan harga di pasar. Karena itu, TPID perlu memastikan data yang dikumpulkan benar-benar sebanding (apple to apple) dan berkualitas,” jelasnya.
Tommy mencontohkan, jika minggu ini dicatat harga beras IR64 dan minggu berikutnya beras Rojolele, maka hasilnya tidak bisa dibandingkan karena berbeda kualitas. Ia juga menyarankan agar pemantauan harga tidak bergantung pada satu merek saja.
