Ia mengaku bangga melihat ribuan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan mampu tampil percaya diri dan kompak. Menurutnya, pemandangan tersebut menjadi gambaran pendidikan di Temanggung yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penguatan identitas budaya.
Sorak penonton kian riuh ketika tarian memasuki bagian klimaks. Alun-alun tak lagi sekadar ruang terbuka, melainkan menjelma menjadi panggung budaya yang hidup—tempat tradisi bertemu dengan generasi muda.
Sementara itu, Ketua Panitia, Bambang Suwito Hadi menyebut, gelaran tersebut sebagai upaya nyata dunia pendidikan dalam menjaga denyut kesenian lokal. Kuda lumping atau Jaran Kepang dipilih, karena telah lama menjadi bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat Temanggung.
“Melalui panggung seperti ini, kami ingin menunjukkan, bahwa Jaran Kepang bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga milik anak-anak muda hari ini,” ujarnya, dilansir dari temanggungkab.go.id, Selasa 13 Januari 2026. (*)
