Disampaikan, gejala klinis virus Nipah umumnya diawali dengan demam tinggi akut, kemudian dapat berkembang menjadi gangguan saraf, seperti penurunan kesadaran dan kejang. Virus ini juga dapat menyerang otak dan memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen.
“Gejala yang mengarah ke penyakit Nipah, teman-teman di puskesmas sudah kami minta untuk waspada dan segera melakukan pelaporan bila menemukan gejala yang mencurigakan,” katanya.
Ia juga mengatakan, penularan virus Nipah dapat terjadi dari hewan ke manusia, maupun dari manusia ke manusia. Untuk itu, upaya pencegahan, masyarakat diimbau agar mencuci buah dengan bersih sebelum dikonsumsi, serta tidak mengonsumsi buah yang sudah rusak atau bekas gigitan hewan. Selain itu, nira atau air sadapan kelapa sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk menghindari potensi kontaminasi.
“Jika buah atau nira diduga terkontaminasi, sebaiknya tidak dikonsumsi. Daging ternak juga harus dimasak hingga matang dan hindari mengkonsumsi hewan yang dicurigai terinfeksi,” tambahnya.
Selain itu, masyarakat diminta untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk, serta memakai masker saat sakit atau berinteraksi dengan orang sakit. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak juga perlu mendapat perhatian khusus.
