Lawan Angka Putus Sekolah, Guru di Batang Lakukan Jemput Bola ke Rumah Siswa

Meski kemiskinan sering dianggap sebagai faktor utama, Bambang meluruskan bahwa masalah ekonomi hanyalah salah satu pemicu. Fakta di lapangan menunjukkan keretakan rumah tangga (broken home) dan pola asuh justru menjadi penyebab yang lebih dominan.

Ia menemukan kasus di mana anak dari keluarga mampu tetap putus sekolah karena kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua. “Sebetulnya bukan semata-mata faktor miskin. Ada keluarga mampu, tapi karena rumah tangganya tidak harmonis, anak akhirnya kurang perhatian dan kehilangan motivasi,” ungkap Bambang.

Tantangan Lingkungan dan Parenting

Bambang menekankan, pendidikan ditopang oleh empat pilar: sekolah, orang tua, masyarakat, dan lingkungan. Tantangan terberat saat ini adalah pengaruh lingkungan pergaulan yang negatif, seperti kebiasaan begadang.

“Ada anak yang setiap malam nongkrong dengan teman-temannya. Akibatnya bangun siang dan malas ke sekolah. Di sinilah kunci pencegahan kembali pada parenting atau pola pengasuhan di rumah,” tuturnya.

Ia berharap ada sinergi yang kuat antara semangat guru di sekolah dengan dukungan moral dari orang tua di rumah. Tanpa dukungan orang tua, upaya guru menyelamatkan pendidikan anak akan menemui jalan buntu.

“Sekolah sudah mengimbau, guru bahkan sampai datang ke rumah. Namun, jika orang tua tidak memberikan dukungan yang baik, upaya ini akan terasa sangat berat,” pungkasnya. (*)

Sharing:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *