Selain itu, CoE juga akan dilengkapi dengan tematik bulanan, seperti wellness, heritage, hingga creative season, serta dibagi dalam beberapa lapisan, yakni kalender publik, industri (MICE), dan investasi.
Dinda menyoroti, saat ini ekosistem event di Yogyakarta masih terdesentralisasi dan belum terintegrasi dalam satu platform. Padahal, potensi festival di kota ini dinilai sangat besar. Ia juga membandingkan Yogyakarta dengan Adelaide dan Singapura. Adelaide disebut sebagai kota festival dengan sistem semi-terpusat dan koordinasi kuat, sementara Singapura sangat selektif dan strategis dalam kurasi event dengan dukungan pendanaan besar.
“Yogyakarta ini emerging dan punya potensi tinggi. Tapi kita masih perlu penguatan integrasi, kurasi, dan koordinasi antar-stakeholder,” ungkapnya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menilai pendekatan kreatif dari Komite Ekonomi Kreatif sangat dibutuhkan untuk mengembangkan CoE yang tidak sekadar administratif, tetapi benar-benar produktif. “Kalau hanya menggunakan cara berpikir birokrasi, ini tidak akan sukses. Karena birokrasi itu kuat di akuntabilitas, tapi sering kurang di kreativitas,” kata Hasto.
Ia berharap Komite Ekonomi Kreatif dapat merancang konsep yang lebih hidup dan inovatif, termasuk dalam mengklasifikasikan event serta menyusun kalender tematik tahunan. Pihaknya juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif, di mana pemerintah berperan sebagai fasilitator.
