CSR – Saya pernah mendampingi, menangani sejumlah perkara “hukum” perlindungan anak yang melibatkan orang-orang terkenal. Para pesohor.
Mereka yang wajahnya akrab di layar kaca, suaranya ditirukan, gaya hidupnya diikuti, dan produk-produknya laris karena namanya.
Di depan publik mereka tampak kuat. Di hadapan kamera mereka terlihat sempurna.
Tetapi ada satu hal yang saya pelajari selama bertahun-tahun mendampingi kasus-kasus itu: di hadapan anaknya sendiri, seorang pesohor sering kali menjadi manusia biasa. Bahkan sangat biasa. Tiga peristiwa ingin saya bagi dalam bentuk cerita.
Case 1
Siang itu seorang artis datang tergopoh-gopoh ke kantor kami. Matanya sembab. Dua anaknya ikut dibawa.
Ia sedang tersangkut perkara pidana ringan. Kabar kedatangannya sudah lebih dulu beredar. Saat mobilnya berhenti, puluhan wartawan telah menunggu dengan kamera yang siap menyala.
Yang paling saya khawatirkan bukanlah sang artis. Melainkan dua anak yang berdiri di sampingnya.
Mereka tidak sedang berperkara. Mereka tidak sedang mencari perhatian publik. Tetapi mereka berada di tengah pusaran yang tidak mereka pilih sendiri.
BCA JUGA : Child Married di balik Ketukan Palu Hakim
Kami berusaha melindungi mereka secepat mungkin.
Hari itu saya meminta seorang staf meminjamkan jilbab yang dikenakannya. Jilbab itu kami gunakan untuk menutupi wajah kedua anak tersebut agar tidak menjadi sasaran lensa kamera.
Staf yang meminjamkan jilbab bahkan harus “mengungsi” ke ruangan lain karena kehilangan penutup kepalanya.
Situasi di luar semakin ramai. Wartawan berdatangan. Warga sekitar ikut berkumpul. Namun anak-anak itu harus tetap aman.
Ketika akhirnya konferensi pers digelar, mereka tidak kami hadirkan. Mereka berada di ruangan lain.
Jauh dari mikrofon. Jauh dari sorot kamera. Jauh dari keramaian yang belum tentu mereka pahami.
