“Raja Bagus, Raja Talun, Kepok Merah dan Putih, Ambon Lumut dan Ambon Amerika itu yang sering dicari masyarakat. Jadi kita memproduksi yang sering dicari,” paparnya.
Sukidi mengaku di tengah efisiensi anggaran belum menambah koleksi maupun mencari jenis pisang yang belum dimiliki. Dia menuturkan koleksi pisang dari berbagai daerah di Kebun Plasma Nutfah Pisang, awalnya didapatkan dengan mencari di daerah-daerah lain. Kemudian dikembangkan di Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta.
Dia menegaskan perbanyakan bibit pisang dengan kultur jaringan dilakukan pada jenis-jenis pisang yang banyak dicari masyarakat. Adapun kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman (seperti sel atau jaringan) dan menumbuhkannya dalam media buatan yang steril. Keunggulan tanaman dari hasil kultur jaringan adalah benih yang dihasilkan seragam, jumlah banyak, dan bebas hama penyakit.
“Tren permintaan bibit pisang naik terus walaupun naiknya landai. Ada permintaan dari lokal Yogya. Yang banyak malah Jawa Timur. Lampung dan Kalimantan juga ada. Perbanyakan dari laboratorium kultur jaringan kita untuk sekarang masih mampu memenuhi permintaan itu. Kami juga kerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk penyediaan bibit tanaman pisang ke seluruh Indonesia,” terang Sukidi.
Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga dalam proses membangun pos jaga dan sekretariat para pekerja di Kebun Plasma Nutfah Pisang. Sukidi menyatakan pembangunan itu menggunakan anggaran dari dana keistimewaan (danais) DIY yang akhirnya turun menjadi Rp 1 miliar dari awalnya Rp 2,5 miliar. Danais juga untuk memperbaiki wajah kebun sekaligus untuk spot foto. Termasuk pengadaan alat autoclave untuk sterilisasi media tanam guna mendukung perbanyakan dengan metode kultur jaringan. (*)
