YOGYAKARTA,Cakram.net – Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat terjadi penurunan jumlah kasus untuk beberapa penyakit menular di kota tersebut selama dua bulan berturut-turut, April dan Mei atau selama pandemi COVID-19, jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Ada beberapa kasus penyakit menular yang mengalami penurunan selama pandemi COVID-19. Ini adalah kabar yang baik,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardaya di Yogyakarta, Jumat (12/6/2020).
Sejumlah kasus penyakit menular yang mengalami penurunan selama dua bulan berturut-turut di antaranya, diare, influenza like illness (ILI), pneumonia, dan tipes.
Menurut Tri, kondisi tersebut dimungkinkan terjadi karena masyarakat mulai melakukan gerakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan lebih serius, salah satunya rajin mencuci tangan dengan sabun.
“Mencuci tangan dengan sabun memang menjadi kunci agar terhindar dari potensi infeksi berbagai jenis penyakit dan dengan gencarnya imbauan untuk mengenakan masker, jaga jarak, dan penerapan PHBS ternyata memberikan dampak pada penurunan sejumlah kasus penyakit menular,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, jumlah kasus penyakit diare akut pada April 2019 tercatat 864 pasien, turun menjadi 255 pasien pada 2020, sedangkan pada Mei 2019 tercatat 646 pasien turun menjadi 257 pasien pada tahun ini.
Begitu pula dengan diare berdarah atau disentri yang tercatat 16 pasien pada April 2019, turun menjadi empat pasien pada April 2020, sedangkan pada Mei 2019 tercatat 14 pasien turun menjadi lima pasien pada Mei 2020.
Untuk kasus pneumonia yang sempat mengalami lonjakan pada Maret 2020 sebanyak 177 kasus, turun menjadi 27 kasus pada April dan 25 kasus pada Mei. Sedangkan pada Maret 2019 tercatat 154 kasus, April 138 kasus, dan 98 kasus pada Mei.
Kasus ILI yang juga mengalami kenaikan drastis pada Maret tahun ini dengan 46 kasus bisa turun menjadi lima kasus pada April dan empat kasus pada Mai. Pada periode yang sama 2019, masing-masing tercatat 21 kasus, 60 kasus, dan 23 kasus.
Sedangkan untuk tipes yang tercatat 49 kasus pada April 2019 turun menjadi sembilan kasus pada April 2020, dan pada Mei 2019 tercatat 37 kasus, turun menjadi delapan kasus pada Mei tahun ini.
“Saya kira, hal ini tidak ada hubungannya dengan kekhawatiran masyarakat untuk mengakses fasilitas layanan kesehatan karena kami pun memberikan layanan jarak jauh. Warga diimbau untuk mengakses layanan kesehatan secara langsung saat benar-benar mendesak,” katanya.
Sejumlah fasilitas layanan kesehatan, lanjut dia, juga memberikan pelayanan dengan menambah jumlah obat, sehingga pasien tidak perlu bolak-balik atau terlalu sering datang mengakses obat.
Kondisi tersebut, lanjut dia, juga terlihat dari jumlah kematian di Kota Yogyakarta yang mengalami penurunan pada April dan Mei tahun ini jika dibanding tahun lalu. Pada April 2019 tercatat 341 kematian turun menjadi 238 kematian pada tahun ini, dan pada Mei 2019 dari 272 kematian menjadi 116 kematian pada tahun ini. (Ant/Cakram)
