TEMANGGUNG, Cakram.net – Malam senyap menyergap di ketinggian Gunung Sumbing, berpadu padan dengan dinginnya hawa yang menusuk tulang. Beberapa warga Dukuh Seman, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung menyalakan obor mencoba menyingkap kabut dengan menerangi sudut-sudut area Pendapa Bumi Makukuhan.
Ratusan warga kemudian terlihat datang dan duduk bersimpuh menghadap tepat ke Pendapa Makukuhan di mana para sesepuh dan pemangku adat duduk bersila melantunkan doa-doa. Tak seberapa lama, alunan gending Jawa mengalun dari tangan-tangan terampil para niyaga, memecah sunyi, diikuti munculnya barisan pria berpakaian beskap dan petani memanggul gunungan berisi hasil bumi.
Mereka membawa serta 17 lembar daun tembakau yang dipetik dari ladang sebagai simbol wiwit panen tembakau telah dimulai. 17 lembar ini merupakan simbol peringatan HUT RI yang jatuh di tiap tanggal 17 Agustus. Selain itu, dalam adat masyarakat Jawa unsur angka 7 artinya “Pitulungan” atau pertolongan. Sedangkan angka satu melambangkan persatuan Indonesia.
Ya, warga yang tinggal di ketinggian 1.300 meter dpl, ini khusuk mengikuti upacara Haul Ki Ageng Makukuhan yang dihelat pada Rabu 3 Agustus 2022 hingga Kamis dini hari 4 Agustus 2022. Haul ini untuk memperingati dan menghormati mendiang Ki Ageng Makukuhan, anggota Dewan Santri penerus Walisanga sekaligus tokoh penyiar agama Islam di tlatah Kedu. Selain sebagai ulama Ki Ageng diyakini adalah orang yang mengenalkan pertanian tembakau pada masyarakat Kabupaten Temanggung tempo dulu.
Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji mengatakan, Ki Ageng Makukuhan merupakan utusan Kanjeng Sunan Kalijaga yang diperintahkan menyebarkan agama Islam di wilayah Sabuk Gunung yang melingkupi Kedu Raya lewat jalur pertanian dan seni.
