UNGARAN, Cakram.net – Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang harus mencari solusi yang inovatif untuk mengatasi kendala pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dialami sekolah di Kabupaten Semarang akibat kesulitan akses internet.
Pernyataan itu disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening menyikapi masih adanya puluhan sekolah di wilayah Kabupaten Semarang yang kesulitan akses internet sehingga menjadi kendala siswa mengikuti PJJ secara daring di masa pandemi COVID-19.
“Semestinya Pemerintah Kabupaten dalam hal ini Disdikbudpora segera melakukan rekayasa atau melakukan tindakan-tindakan yang inovatif untuk mengatasi permasalahan itu,” kata Bondan, Minggu (20/12/2020).
Bondan mengungkapkan, Gubernur Jawa Tengah sudah mengeluarkan surat tentang protokol kesehatan yang salah satunya meminta pembelajaran tatap muka (PMT) di sekolah ditunda pelaksanaannya.
“Maka ketika ada kesulitan akses internet untuk mendukung pembelajaran jarak jauh harus ada inovasi lain, mungkin lewat media lain atau alat komunikasi yang lain. Yang jelas, pendidikan dengan tidak tatap muka bisa tetap berjalan,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang, Sukaton Purtomo Priyatmo menyebutkan saat ini masih ada 25 sekolah di Kabupaten Semarang kesulitan mengakses internet. Kondisi itu menjadi kendala dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring.
“Sekolah yang susah sinyal internet tersebar di beberapa desa, dari 208 desa dan 27 kelurahan yang ada di Kabupaten Semarang. Sampai sejauh ini wilayah desa atau kelurahan yang kesulitan untuk menerapkan sekolah daring tersebar di Kecamatan Ungaran Barat, Pringapus, Banyubiru, Bringin dan Kecamatan Kaliwungu,” ungkap Katon, sapaan akrab Sukaton Purtomo Priyatmo, Jumat (18/12/2020).
Untuk mengatasi kendala itu, lanjut Katon, Disdikbudpora Kabupaten Semarang menerapkan kebijakan kepada guru di wilayah susah sinyal internet melakukan kunjungan ke rumah peserta didik. Karena di masa pandemi COVID-19 tidak ada pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah.
Katon menjelaskan, untuk mengatasi beragam tantangan atau kendala yang ada terpaksa dilakukan metode pembelajaran dengan tiga pola, yakni pembelajaran luar jaringan (Luring), Daring dan PTM.
“Pembelajaran tatap muka tidak identik siswa datang ke sekolah tetapi guru berkunjung ke siswa termasuk PTM, khususnya di daerah yang kesulitan sinyal internet. Rencananya kami juga akan memanfaatkan HT (handy talkie), sudah uji coba di Banyubiru,” imbuhnya. (dhi)
