Menurutnya, respon sekolah dan para pelajar SMA/SMK di Kota Yogyakarta dengan kegiatan itu cukup antusias. Hal itu dibuktikan dengan setiap ada kegiatan pelayanan rekam data KTP-el di sekolah diikuti sekitar 100 sampai 120 pelajar per sekolah. Pihaknya menegaskan kesadaran anak muda yang berusia 17 tahun untuk mengurus KTP-el cukup tinggi. Tapi kegiatan jemput bola itu untuk memudahkan pelayanan.
“Kegiatan jemput bola rekam data KTP el di sekolah ini untuk memudahkan dan mempercepat pelayanan. Ini agar tidak mengganggu proses belajar mengajar karena mengurus rekam data KTP-el di luar sekolah, sehingga kami fasilitasi di sekolah,” terang Bram.
Dia menjelaskan bagi pelajar yang berumur 17 tahun setelah melakukan rekam data dan apabila dicek datanya tunggal, maka langsung dicetakkan KTP-el dan didistribusikan di sekolah. Namun bagi pelajar yang usianya masih 16 tahun pencetakan KTP-el menunggu usia masuk 17 tahun. Saat rekam data pelajar diminta bawa fotokopi kartu keluarga (KK) dan distempel sebagai bukti sudah direkam data KTP-el.
“Kami minta fotokopi KK yang sudah distempel itu difoto dan disimpan di handphone para pelajar. Saat usianya masuk 17 tahun, foto data KK yang telah distempel sudah rekam itu tinggal ditunjukkan ke petugas Dindukcapil maka akan dicetakkan KTP-el,” jelasnya.
