“Pengusaha mendampingi santri merubah warung kelontong yang sebelumnya serba manual, kemudian ada komputerisasi dan menjadi toko modern dengan manajemen seperti minimarket,” katanya.
Untuk memajukan Ekotren, pemprov tidak hanya melibatkan Dinas Koperasi dan UMKM, tetapi juga bersinergi dengan Ponpes di Imogiri yang telah berhasil mengembangkan minimarket berbasis ponpes di berbagai daerah, termasuk di rest area jalan tol. Beberapa santri asal Jateng sudah diberangkatkan ke ponpes di Imogiri Jawa Timur, guna belajar tentang manajemen, pemasaran, dan sebagainya.
“Para santri kita sekolahkan ke Imogiri, mereka diberi wawasan tentang manajemen toko. Pendampingan-pendampingan seperti ini kita berikan kepada santri di pesantren dan para alumni, sehingga saat ini sudah banyak muncul usaha-usaha. Antara lain air mineral isi ulang di Tegal, ada toko modern di Jepara, Warung Arab di Pati, dan banyak lagi,” bebernya.
Selain Ekotren bidang usaha toko modern, lanjut dia, tidak sedikit pesantren di Jateng yang mengembangkan ekotren berbasis perkebunan atau pertanian modern. Bahkan, beberapa santri di Salatiga dan Semarang telah yang menggeluti usaha pertanian dan berhasil memajukan sektor pertanian di daerahnya.
“Santri-santri juga bisa diajak berkebun secara modern. Di Kabupaten Semarang ada santri mengelola kebun yang disebut kebun edukasi. Mereka menawarkan wisata petik buah, cara mengolah hasil kebun, dan sebagainya. Saya senang ini bisa menginspirasi kita semua,” terangnya. (rls)
