Salah satu yang layak digunakan adalah memperbanyak kampanye dialogis. Dengan memperbanyak kampanye secara dialogis, bisa dijadikan wahana pendidikan politik kepada warga, sehingga bisa mencerdaskan masyarakat. Bahkan, bisa digunakan wahana untuk menyerap informasi sekaligus dari masyarakat. Dengan demikian, para kontestan bisa memberikan jawaban maupun solusi atas persoalan-persoalan yang dilontarkan oleh masyarakat.
Interaksi dengan masyarakat yang dilakukan dengan terus menerus sebagai perwujudkan prinsip bahwa politik bukan untuk kekuasaan semata, tapi hadir dan adanya sebagai media untuk memperjuangkan dan memperbaiki kondisi masyarakat. Politik untuk kemaslahatan rakyat tidak akan dapat dilaksanakan tanpa ada proses interaksi dengan rakyat. Sebab, politik digunakan untuk membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.
Model kampanye yang humanistik dan mencerdaskan yang saya kira saat ini dibutuhkan masyarakat. Dengan berorientasi pada program, saya kira masyarakat akan lebih mengetahui apa-apa saja yang akan diperjuangkan kelak bila menjabat. Sebab, yang lebih penting bagi masyarakat adalah bagaimana kontestan mampu memecahkan persoalan-persoalan keumatan yang sedang bergejolak. Kontestan tidak hanya diharapkan sebagai agen pengungkapan atau wacana (disclosure agent), tapi juga sebagai agen yang membantu pemecahan masalah (problem solving agent).
Di luar peserta pemilu, dengan banyaknya pemilih melinal ini, juga perlu menjadi perhatian penyelenggara pemilu, terutama KPU. Jajaran KPU punya tugas besar untuk memberikan banyak sosialisasi kepada para pemilih milenial agar tetap menggunakan hak pilihnya, supaya mereka tidak golput. Situasi seperti ini juga menjadi tantangan sendiri bagi penyelenggara pemilu di setiap jenjang. (*)
___________________________________________________________________________________________________________
isi dari opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Cakram.net
