Tumpukan batu dalam bentuk Candi Borobudur, merupakan karya putra Nusantara sejak zaman Dinasti Syailendra, dan hingga kini tetap berdiri kokoh. Sebagai bangunan suci peninggalan agama Buddha, di dalamnya memuat banyak relief-relief yang tak ternilai manfaatnya sebagai bahan kajian berbagai disiplin ilmu.
Menurut Eko Sanyoto, dengan mempelajari tarian dalam bentuk relief yang tergambar di dinding batu Candi membuat wisatawan asing untuk datang ke Borobudur, seperti wisatawan asal Taiwan sebanyak 15 orang khusus untuk belajar tari, nabuh gamelan dan lainnya.
Ia menilai candi yang dibangun oleh Dinasti Syailendra tersebut adalah sebuah karya agung atau mahakarya budaya yang telah diakui dunia, oleh UNESCO sebagai peninggalan budaya dunia. Banyaknya relief di Candi Borobudur, mulai relief Karmawibanga sampai Gandavyuha yang jumlahnya sampai 1.460 panel relief berbentuk naratif (cerita) merupakan sumber inspirasi yang tak pernah kering untuk dapat dijadikan penggalian ide berkarya seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni sastra.
Seni tari sebagai suatu bentuk ekpresi jiwa yang diungkapkan melalui gerak ritmis yang estetis, tentunya tidak lepas dari berbagai apek yang melingkupinya, seperti wiraga (teknis gerak), wirama (kepekaan irama), wirasa (kepekaan rasa).
Untuk menghasilkan karya tari (koreografi) ideal, ketiga aspek tersebut masing-masing saling berkelindan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Apabila dicermati, masing-masing sanggar telah menghasilkan karya yang sangat berbeda dengan gaya tari yang sudah ada selama ini.
